Tuesday, November 14, 2006

Perkembangan Teknologi Dan Dampaknya (ISP)

Berkembang pesatnya teknologi jaringan ternyata memberi dampak baik postif maupun negatif. Beberapa tahun yang lalu berkembang teknologi VSAT, Leased Line dan dial-up yang digunakan untuk melakukan komunikasi data antar daerah maupun dengan menggunakan internet. Namun saat ini telah berkembang teknologi baru, misalnya adalah wireless dan ADSL. Penyedia jasa internet (ISP), tentu harus bekerja keras untuk menyesuaikan dengan temuan-temuan baru tersebut - karena tuntutan pasar dan persaingan dengan sesama ISP. ISP yang bisa menyerap teknologi dengan cepat dan menyebarkan dalam bentuk produk ke masyarakat, tentu akan memperoleh banyak pelanggan daripada ISP kecil yang hanya mempunyai modal yang kecil dan hanya mampu menguasai teknologi saat ini, tanpa mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan teknologi selanjutnya.

Permodalan pembangunan suatu ISP tampaknya tidak hanya mengandalkan permodalan pembelian perangkat, perijinan dan operasional yang di hitung hanya selama beberapa tahun, namun juga harus memasukkan juga faktor riset, perkembangan teknologi dan perubahan peraturan dalam variabel perhitungan investasinya. Inovasi dalam industri teknologi informasi sangat diperlukan dalam mempertahankan bisnisnya, karena perubahan akan selalu terjadi setiap saat.

Contoh dari perkembangan saat ini adalah penggunaan teknologi ADSL dan wireless dalam komunikasi data. Kedua teknologi tersebut mempunyai keunggulan dalam faktor biaya dan kecepatan (bandwidth) apabila dibandingan dengan dial-up, leased line atau VSAT. Maka secara perlahan pun pengguna akan mempertimbangkan pilihan teknologi yang digunakan dalam melakukan akses ke internet.

Pemerintahpun sebenarnya mempunyai komitment untuk menurunkan biaya bandwidth sehingga bisa lebih terjangkau oleh masyarakat luas, sehingga aneka kebijakanpun di keluarkan sebagai implementasinya. Namun kebijakan yang tidak terarah, karena tidak adanya rencana pembangunan ICT secara nasional, kurang mengena ke investor pada ICT. Para pebisnis dibidang ICT harus menghitung ulang investasinya, apabila timbul kebijakan baru. Salah satu contohnya adalah pemberian kanal frekuensi untuk beberapa perusaan yang digunakan untuk 3G.

Salah satu faktor yang hanya bisa di jadikan patokan yang pasti kemasa depan adalah kebutuhan bandwidth yang akan semakin besar. Untuk ISP besar (yang mungkin juga berperan sebagai NAP) yang mempunyai infrastruktur jaringan yang besar pula, tentu akan mempunyai pangsa pasar yang luas pula. Pemilik infrastruktur ICT adalah yang relatif bisa bertahan lebih lama, karena bisa menekan faktor biaya. Sedangkan ISP kecil yang hanya bisa bergabung dengan ISP yg lebih besar akan semakin mengalami tekanan dalam memperoleh pelanggan. ISP kecil harus mereformasi usahanya sehingga tidak hanya menyediakan jasa akses internet, namun memasuki bidang usaha lain yang berkaitan dengan internet, misalnya adalah penyedia contain, pembangun aplikasi, sistem integrator, konsultan dan lain sebagainya. Atau, salah satu cara dalam mempertahankan bisnis ISP kecil adalah dengan melakukan marger atau penggabungan, namun untuk opsi tersebut masih memerlukan waktu yang panjang, karena orientasi bisnis antar ISP pada awalnya tentu saja berbeda.

Komunitas dalam industri ICT adalah kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh, karena beberapa bagian penting dalam pembangunan teknologi ICT di dunia di gerakkan oleh komunitas. Demikian pula pada bisnis ISP. Komunitas dalam ISP sangat mempengaruhi kelangsungan hidup ISP, misalnya adalah dengan pembangunan OpenIXP melalui komunitas. Komunitas tersebut akan memperpanjang umur ISP di Indonesia. ISP harus bisa memanfaatkan komunitas untuk bertahan dan bahkan mengembangkan diri.

Pada akhirnya, kekuatan pasar memang yang akan menentukan apakah suatu ISP akan bertahan atau tidak.